Pelaksana program Mainstreaming Good Practices in Basic Education (MGP-BE) UNICEF berupaya meningkatkan praktek-praktek layanan yang baik pada sekolah dasar dengan menggiatkan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, menyenangkan (PAKEM), dan manajemen berbasis sekolah (MBS). Sunaryo, penanggung jawab operasional kegiatan (PJOK) MGP-BE UNICEF Kabupaten Lamsel, mengatakan praktek layanan yang baik pada pendidikan dasar akan meningkatkan pembelajaran di kelas.
"Untuk itu, wali murid terlibat dalam pembelajaran di kelas bersama guru. Keberadaan orang tua di dalam kelas akan men-support anak didik lebih terampil dan kreatif," kata Sunaryo di sekolah dasar binaan UNICEF di Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lamsel, Jumat (16-1).
Sunaryo mengatakan Kabupaten Lamsel adalah salah satu kabupaten di Indonesia yang mendapat sasaran program MGP-BE dari badan dunia anak anak (UNICEF). Program yang dilaksanakan sejak Juni 2008, dan berakhir Oktober 2010 ini membina 43 sekolah dasar dan menengah. Sebanyak 21 SD/MI, SMP/MTs binaan terdapat di Kecamatan Palas, dan sisanya di
Kecamatan Sidomulyo.
"Sebanyak 43 sekolah tersebut dijadikan binaan UNICEF untuk meningkatkan pola layanan pembelajaran yang lebih baik. Sebab, selama ini pelajaran yang diberikan oleh guru masih bersifat monoton, bahkan menjenuhkan. Untuk itu, melalui program ini dapat mengubah cara belajar siswa dan cara guru memberi pelajaran," kata dia.
Ia menjelaskan sejak dimulai program MGP-BE, pihaknya telah mencetak 21 orang fasilitator yang berasal dari kalangan pendidik di Diknas Lamsel. "Fasilitator diadakan untuk p
ercepatan MGP-BE. Dan jika program UNICEF selesai, tenaga fasilitator tersebut bisa ikut membantu mengembangkan praktek layanan yang baik di sekolah lain," ujarnya.
Menurut Sunaryo, hibah dana CDF untuk program MGP-BE UNICEF tahun 2008 sebesar Rp902 juta. Rinciannya, setiap SD/MI binaan Rp15 juta, gugus Rp20 juta, SMP/MTs binaan Rp20 juta, dan subrayon. "Dana tersebut berasal dari masyarakat Uni Eropa," ujarnya. n AL/R-2
